Minggu, 08 Juni 2014

Arkeologi : Rampi dan Bukti Kehidupan Pra Sejarah.

Arkeologi : Rampi dan Bukti Kehidupan Pra Sejarah.






                Secara geografis Kecamatan Rampi terletak pada kawasan Pegunungan pada titik 10 53’ 19” - 20 16’ 14” Lintang Selatan/South Latitude 1200 3’ 2” - 1200 31’ 13” Bujur Timur/East Longitude.   Batas Wilayah sebelah Utara/North Side Propinsi Sulawesi Tengah/ Province of Sulawesi Tengah, Sebelah Timur/East Side Kabupaten Luwu Timur/ Subdistrict of Luwu Timur, Sebelah Selatan/South Side Kecamatan Masamba/Subdistrict of Masamba, dan Sebelah Barat/ West Side Kecamatan Seko/ Subdistrict of Seko. LUAS WILAYAH/Total Area 1 565.65 Km2, JUMLAH DESA/ Number of Village 6 Desa Definitif.  

           Secara Sosiologis Masyarakat Rampi masih dapat digolongankan dalam kehidupan yang Homogen. Ikatan kekerabatan antar desa tetangga masih sangat kental, hal ini dapat terlihat pada hubungan komunikasi antar sesama masyarakat Rampi. Secara ekonomi mata pencaharian masyarakat Rampi yang dominan adalah petani. Peran Lembaga Adat yang dipimpin oleh Tokei Rampi masih dipegan teguh oleh masyarakat Rampi dalam menyelesaikan segala macam persoalan sosial kemasyarakatan.

Kawasan lembah Rampi ternyata menyimpang bukti - bukti kehidupan masa lampau. Temuan - temuan tinggalan Arkeologis dapat dijumpai pada sebaran - sebaran daratan Rampi, seperti temuan tinggalan patung batu megalitik dan Pecahan Gerabah Tanah Liat yang terdapat di Desa Onondowa dalam kawasan areal persawahan "Timo-oni". 

    

(Temuan : Pecahan Gerabah Tanah Liat yang tertanam dalam Tanah)


Berdasarkan ciri-ciri fisik temuan tinggalan Budaya di Kecamatan Rampi, temuan tersebut dapat dikategorikan dalam benda tinggalan budaya masa Megalitik fase kehidupan Pra sejarah. Masa Megalitik ditandai dengan adanya Benda Batu Besar yang dibuat oleh manusia masa lalu serta komponen alat rumah tangga seperti gerabah yang terbuat dari tanah liat. 

Kegiatan Eskavasi yang dilakukan pada Bulan April Tahun 2014 oleh Tim Pusat Balai Arkeologi Nasional bersama Balai Pelestarian Benda Cagar Budaya Makassar bersama Bidang Kebudayaan Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Luwu Utara menenukan ciri - ciri Fase Pra Sejarah dimaksud diatas pada galian yang dilakukan dalam lokasi eskavasi di Kawasan "Timo-oni" Desa Onondowa Kecamatan Rampi Kab. Luwu Utara Prop. Sulawesi Selatan.

        (Dokumentasi Eskavasi Bulan April 2014 : Patung Batu Megalitik di Kawasan "Timo - Oni" Desa Onondowa Kecamatan Rampi )


  (Dokumentasi Survei Bulan April 2014 : Patung Batu Megalitik di Kawasan "Timo - Oni" Desa Onondowa Kecamatan Rampi )





   (Dokumentasi Eskavasi Bulan April 2014 : Pecahan Gerabah Tanah Liat yang ditemukan dalam timbunan tanah di Kawasan "Timo - Oni" Desa Onondowa Kecamatan Rampi )



   (Dokumentasi Eskavasi Bulan April 2014  Di Kawasan "Timo - Oni" Desa Onondowa Kec. Rampi )

           Tujuan dari Eskavasi yang dilakukan adalah untuk melihat asal usul temuan tinggalan budaya megalitik di Kawasan Lore Lindu Kabupaten poso dan Kabupaten Sigi Propinsi Sulawesi Tengah dalam bentuk mengumpulkan dan merekam tentang asal usul, pemukiman dan aspek - aspek perkembangan Budaya Penutur Austronesia di Kawasan Lembah Rampi. Tujuan ini berada dalam lingkup tema ketiga dari kebijakan penelitian prasejarah Indonesia di Pusat penelitian Arkeologi yaitu : " Kehidupan dan Perkembangan budaya Penutur Austronesia". Kerangka Penelitian ini mengaittkan dengan isu - isu besar seperti : evolusi dan perkembangan hunian dan budaya, migrasi atau persebaran pendukungnya, adaptasi dan interaksi dengan lingkungan biotik dan abiotik dalam konteks geografis Sulawesi.

Selain temuan tinggalan Budaya Megalitik di atas, di Rampi juga masih ditemukan tinggalan budaya masa lalu yang bersifat kerajaan seperti benda - benda alat rumah tangga yang terbuat dari kuningan, pakaian kerajaan Luwu serta alat pembuat pakaian dari kulit kayu.

 (Dok. Bid. Kebudayaan Tahun 2014 : Benda - benda tinggalan budaya Lembaga adat "Tokei Rampi")

 (Dok. Bid. Kebudayaan : Baju Raja Baebunta yang dihadiahkan kepada Pemangku Adat Rampi saat   perang di wilayah Baebunta Masa Lalu)
   (Dok. Bid. Kebudayaan : Pakaian adat Tradisional Rampi yang terbuat dari Kulit Kayu).

            Hingga kini penulusuran atas tinggalan benda budaya dan kekayaaan budaya masih saja dilakukan guna menginventarisasi kekayaaan budaya lokal Kabupaten Luwu Utara sebagai kerangka dalam pelestarian budaya dan penguatan kekayaan budaya Nusantara/Nasional seperti yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya.

Terima Kasih.

    






    

Senin, 17 Maret 2014

MATTOMBANG : Ritual adat pencucian Benda Pusaka Karajaan Uraso



Mattombang adalah sebuah prosesi ritual adat Tana Luwu yang dilakukan oleh komunitas adat sebagai bagian kepercayaan masyarakat yang turun - temurun dilaksanakan berdasarkan perhitungan kalender masa tanam padi masyarakat setempat. Prosesi adat ini dilakukan dengan ritual pencucian benda pusaka komunitas adat setempat.



Prosesi Mattombang tidak serta merta dilaksanakan, namun sebagai bagian yang terintegrasi dengan kepercayaan maka prilaku sosial dan gejala alam juga menjadi perhatian dan pertimbangan untuk melaksanakan ritual mattombang.



Secara sosiologis prosesi Mattombang juga dimaknai sebagai langkah transformasi informasi prilaku adat setempat kepada masyarakat dengan alam sekitarnya, mempererat hubungan silahturahmi antar sesama kerabat serta memupuk persatuan dan kesatuan adat masyarakat komunitas.



Nilai Arkeologisnya adalah proses pemeliharaan dan penyelamatan terhadap benda pusaka, walaupun dalam praktek pelaksanaan alat pencucian "bilah bambu" yang digunakan  jika tidak dilakukan secara hati - hati dapat merusak benda pusaka tersebut.



Berikut beberapa dokumentasi kegiatan Mattombang di Desa Uraso Kec. Mappedeceng Kab. Luwu Utara :















































        

Rabu, 13 Juni 2012

Benda - benda sejarah kerajaan Luwu

Situs Sejarah di tana Luwu :

           Di tana Luwu sebagai pusat kebudayaan kerajaan tertua di Sulawesi selatan masih banyak dijumpai situs dan benda benda sejarah yang berhubungan langsung dengan kehidupan masa lalunya. Benda - benda tersebut mengandung makna akan kejadian pada masa itu, baik yang bersentuhan langsung  dengan mekanisme tatanan hidup rumah tangga kerajaan Luwu maupun yang bersentuhan langsung dengan pola sosial adat istiadat dan budaya di luar Istana Kerajaaan.  Disamping benda sejarah tersebut, juga terdapat beberapa maqam para tokoh yang berpengaruh pada masa itu.

          Di Luwu Utara misalnya, dibeberapa titik kita akan menjumpai kawasan-kawasan sejarah lengkap dengan peninggalan - peninggalannya seperti di Desa Pattimang Kec. Malangke. Desa Uraso Kecamatan Mappedeceng, Desa Tamuku Kec. Bone - Bone, dan kawasan-kawasan sekitarnya. Dari benda - benda tersebut kita akan dapatkan kisahnya sendiri seperti misalnya pada benda yang satu ini ( lihat gambar ) :


 
.  

          Benda - benda tersebut merupakan benda sejarah tentang kejayaan Kerajaan Luwu pada masanya. Aneka bentuk peralatan rumah tangga yang digunakan keluarga kerajaan Luwu pada saat itu. Berdasarkan bentuknya, maka kita akan melihat sentuhan karya seni tingkat tinggi pada masing-masing benda tersebut. Ini menandakan bahwa alat ini memang khusus hanya digunakan pada Istana Kerajaan Luwu.
berdasarkan penulusuran penulis, informasi yang didapatkan bahwa benda - benda tersebut telah berumur ratusan tahun bahkan benda tersebut di atas sempat dibawa ke hutan oleh pemberontak pada saat itu, namun mungkin terjatuh di sungai sehingga benda tersebut ditemukan warga dan dikembalikan kepada pemiliknya saat itu. Ciri  benda tersebut biasanya terbuat dari logam keras semacam kuningan dan tembaga.Tentang fungsi dari benda tersebut diatas, penulis dapat sebutkan sebagai berikut :
1. Pajjanangan adalah wadah menempatkan lampu minyak.
2. Kompu adalah wadah untuk sesaji saat proses pelamaran
3. Timbokan adalah wadah untuk air cuci tangan
4. Pattikuduan adalah wadah pembuangan air ludah saat makam buah siri/pinang
5. Buleta adalah pengalas gelas
6. Jolong dan bosara adalah wadah baki makanan dan pengalas piring.

benda tesebut sangat kaya dengan sentuhan seni, keelokan dan keindahan yang ada pada benda tersebut diatas menandakan keistimewaan akan benda tersebut dan penggunanya.

    



Senin, 28 Mei 2012

BUDAYA DAN ADAT ISTIADAT SEBAGAI IDENTITAS BANGSA

Budaya dan adat istiadat sebagai identitas bangsa.

        Pada hakekatnya, awal lahirnya sebuah budaya atau adat istiadat adalah sebuah usaha sosial atau kelompok masyarakat untuk mempertahankan hidupnya terhadap desakan kebutuhan hidup yang diperhadapkan pada tantangan alam di sekitarnya. Akal dan pengetahuan manusia sebagai modal kreasi untuk menciptakan pola kebudayaan itu sendiri sehingga menciptakan nilai dan norma kehidupan yang diakui dan dipercaya sebagai sebuah kekuatan spiritual pada saat itu. Kreasi ini kemudian menjadi kekuatan moral untuk mengkontrol pola hubungan timbal balik antara manusia dan alam sekitarnya. 

       Kepercayaan ini tumbuh kuat secara kolektif dalam ranah kehidupan sosial bahkan dibeberapa tempat mengarah menjadi bentuk sebuah keyakinan. kekuatan mistik ini menjelma menjadi semacam pedoman untuk berprilaku secara pribadi maupun secara homogen. Pada prakteknya prosesi adat dan budaya ini  terlaksana dipimpin oleh seseorang yang dipercaya mampu menjembatani komunikasi metafisik antara alam nyata dan alam gaib. Istilah pemimpin mistik lokal ini sering kita dengan dengan sebutan dukun, atau pawang. 

Ket. Gbr : (Prosesi Manre Saperra atau Mappalesso Samaja di Desa Pattimang Kec. Malangke Kab. Luwu Utara pada tanggal 24 April 2012 - Dokumentasi Bid. Kebudayaan Dikominfobudpar Kab. Luwu Utara)

         Kekuatan kepercayaan masa lampau ini menjadi semakin kuat setelah mendapatkan legitimasi dari Pimpinan lembaga pemerintahan saat itu yaitu Raja, sehingga pada perkembangannya kebiasaan adat dan budaya setempat menjadi sangat terkontrol dan terkoordinir. Dibeberapa kawasan bekas kerajaan, kebiasaan ini menjadi terpelihara dan sangat sakral ketika prosesi adat dan budaya ini dikendalikan langsung oleh para pewaris kerajaan atau minimal mendapat restu dari pewaris kerajaan untuk melakukan ritual adat dan budaya tersebut. Inilah yang menjadi ciri khas masing - masing wilayah adat budaya sehingga kekuatan ini menjadi jati diri sebuah bangsa.

Sekarang tugas kita adalah memelihara dan menjaga untuk tujuan pelestariannya.


          
  

Minggu, 27 Mei 2012

Permohonan Bantuan Dana Pembangunan Masjid: Mohon bantuan dana pembangunan Masjid Jami Kel. Ba...

Permohonan Bantuan Dana Pembangunan Masjid: Mohon bantuan dana pembangunan Masjid Jami Kel. Ba...

Assalamu Alaikum Wr. Wb
Kepada para Hamba Allah yang telah limpahkan reski yang berlimpah dan berberkah di Sisi-Nya.
Kami mengajak untuk membantu kami dalam menyelesaikan pembangunan Masjid Jami Baliase yang sementara dalam proses pekerjaan bangunannya. Masjid tersebut terletak di Kelurahan Baliase Kec.Masamba Kab. Luwu Utara Prop. Sulawesi Selatan.

Alhamdulillah, proses pengerjaan bangunan telah mencapai 40 % dari total bangunan yang direncanakan dan tetap kami upayakan sesuai harapan masyarakat dan jamaah masjid agar dapat digunakan secara utuh pada bulan Ramadhan 1433 H / 2012 M nantinya.

Oleh karena itu, kami mengajak sekalian kepada Hamba Allah, SWT agar dapat secara bersama-sama mengsukseskan pembangunan Masjid ini dengan melalui Do'a kesuksesan, Harapan dan bantuan dana. Semoga semua dapat menjadi ladan dan amal jariah bagi kita. Amin.

Bantuan Dana anda dapat disalurkan melalui :
Bank BRI KCP MASAMBA
Nomor Rekening : 0641-01-003050-53-3
Nama : PANITIA PEMBANGUNAN MASJID JAMI BALIASE

contak Person : Hp. 081342630452 (andy)

Atas segalanya diucapkan terima kasih, semoga Allah SWT membalas segala kebaikan yang kita lakukan. Amin.

Wassalamu Alaikum Wr. Wb.